Rokok, Budaya Merokok dan Hubungan Sosial di Sulawesi Selatan

Di masa lalu, tradisi makan sirih (mangota) adalah jamak bagi masyarakat nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan. Tradisi ini dilakukan setiap saat, apalagi menjamu tamu. Tamu akan disuguhkan sirih beserta perangkatnya sebagai bentuk keakraban pada hubungan sosial di masa lalu. Namun seiring zaman, rokok diperkenalkan ke nusantara. Perlahan tradisi makan sirih beralih ke tradisi merokok. 

Rokok sejatinya dapat dinikmati bersama minuman seperti teh dan kopi. Gencarnya kampanye anti rokok yang didukung berbagai regulasi, akhirnya menyebabkan perokok kian tersudutkan. Sedikit demi sedikit, terjadi perubahan paradigma tentang rokok dan merokok dalam beberapa dasawarsa terakhir. Walaupun merokok bukan perbuatan yang menyehatkan di satu sisi, namun merokok dapat membantu suasana rileks yang mengkondisikan dialog yang serius maupun ringan. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, merokok umumnya dilakukan oleh laki laki dan perempuan tua. Merokok bukan hanya sebagai "alat bantu suasana rileks", akan tetapi perekat hubungan sosial. 

Saat berada di ruang sosial yang baru. Salah satu cara untuk memulai pembicaraan dengan orang orang yang tidak dikenal adalah dengan menawarkan rokok. Setelah itu, baru dimulai beberapa dialog yang pada akhirnya menciptakan keakraban diantara orang orang yang ada disekitarnya.

Dalam budaya merokok di Sulawesi Selatan, ~pada ruang sosial yang anggotanya saling mengenal~ menaruh rokok dikantong saat bercengkrama dianggap pelit. Rokok selalu ditaruh di meja dan dipersilahkan kepada semua orang untuk mengisapnya. Saat menawarkan rokok, kedua tangan terbuka dan menyodorkan rokok ke arah orang. 




Sepertinya tradisi menyuguhkan sirih dimasa lalu telah bermetamorfosa di tradisi merokok. Ketika ada orang minta rokok, etikanya ia tidak akan langsung mengambil rokok tersebut. Ia akan bertanya siapa pemilik rokok. Bila pemilik rokok mengatakan "rokokku", maka orang itu tidak akan mengambilnya. Namun bila pemilik rokok mengatakan "rokokta" (maksudnya rokok kita), maka orang itu akan memulai merokok.

Wacana kenaikan harga rokok yang tentu tidak seimbang dengan kenaikan pendapatan perokok untuk membeli rokok, akan menyebabkan perubahan tradisi merokok di Sulawesi Selatan. Perubahan itu kira kira dengan tidak ditawarkannya rokok di tempat umum. Pemilik rokok akan menyembunyikan rokoknya menghindari teman yang minta rokok. Kalau perlu rokok batangan di simpan didompet demi memenuhi kebutuhan merokok saat persediaan rokok di ruang sosial semakin kurang. Sederhananya, orang di Sulawesi Selatan, akan pelit dengan rokoknya masing masing. Sehingga keakraban, kesantunan dan kedermawanan antara sesama perokok akan tergantikan dengan prinsip "untukmulah rokokmu dan untukkulah rokokku". 

Manusia Bugis (Resensi)

Bisa dikatakan, buku Manusia Bugis adalah karya yang paling mampu menjelaskan eksistensi orang Bugis. Puluhan tahun di Sulawesi Selatan, konsistensi Christian Pelras ~dalam konteks peneliti luar~ mungkin hanya bisa disaingi pendahulunya, yaitu F Matthes. Mampu berbahasa Bugis halus, berkorespondensi dengan menggunakan aksara lontara, serta beretika ala orang Bugis dulu, adalah sebagian dari kemampuan Pelras. 



Buku Manusia Bugis yang terdiri dari 11 bab dan 397 halaman ini, menjelaskan berbagai hal secara komprehensif. Pada bab 1 Pendahuluan, memaparkan secara umum tentang orang Bugis seperti wilayah, bahasa dan hubungan suku tetangganya. Bab 2 (bukti dan sumber) dan bab 3 (sulawesi selatan pada masa awal) membahas tentang data arkeologis, tinggalan megalitik, epos ilagaligo, kronik dan sumber luar sebagai bahan untuk merekonstruksi pemahaman tentang sejarah orang Bugis.

Bab 4 (Peradaban awal), membahas tentang kebudayaan bendawi, sistem kepercayaan, dan kosmologi. Tentang kepercayaan Bugis kuno, Pelras menulis : ..."Dasar sistem religi Bugis pra Islam sebenarnya bersifat pribumi, meski mungkin ditemukan adanya persamaan dengan konsep religi India, baik Hindu maupun Budha.....Kalaupun ada kesamaan, itu mungkin karena bersifat universal umat manusia. Kemiripan lain dengan mitos padi dan ritual daratan asia tenggara dan Nusantara bagian barat, yang sebelumnya memperoleh pengaruh India........Sinkretisme juga memiliki peran terhadap keberadaan beberapa jejak nama dan istilah pinjaman yang menunjukkan pengaruh Buddha maupun Siwaisme, yang barangkali masuk lewat hubungan tidak langsung, khususnya Sumatera (hal. 109)". Pendapat Pelras ini sangat beralasan. Mengingat berbagai kosakata serapan India yang digunakan masa lalu (sebagian sekarang) namun tidak ditemukannya kitab suci Hindu maupun Budha dalam literatur Bugis Kuno.

Kekuasaan di Sulawesi Selatan selalu dihubungan dengan I Lagaligo. Hal ini dijabarkan Pelras pada bab 5 (Bangkitnya Kerajaan Historis). Luwu sebagai kerajaan paling dominan, perlahan mulai surut dengan kemunculan kerajaan Bone, Makassar, Wajo, Soppeng dan Sidenreng. Era Datu Dewaraja dan pasca meninggalnya, terjadi banyak peperangan yang menggoyahkan dominasi Luwu. Sementara, jatuhnya Benteng Malaka di semenanjung Melayu berdampak politik dan ekonomi terhadap Sulawesi Selatan. Hal ini dijelaskan pada bab berikutnya yaitu bab 6 (Pertarungan antara kekuasaan dan agama). Interaksi dengan Portugis menyebabkan diserapnya berbagai jenis budaya. Bahkan Kristen (Katolik) mulai diperkenalkan ke Sulawesi Selatan. Tercatat Datu Suppa dan Siang sempat di baptis. Misi Kristenisasi di kerajan Bugis sempat terhenti akibat terjadinya perang antara Sidenreng yang dibantu Gowa melawan Wajo (hal. 151). Sementara Kerajaan Makassar mulai muncul sebagai kerajaan dominan di Sulawesi Selatan, kerajaan Bugis membentuk aliansi untuk menghadapi kerajaan Makassar. Dominasi kerajaan Makassar ini tidak terlepas dari politik luar negerinya yang bersahabat dengan Portugis dan Melayu sehingga perdagangan laut Makassar meningkat. Hubungan Kerajaan Makassar dengan Kerajaan Aceh menjadi pintu kedatangan tiga datuk yang legendaris yang menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan.

Bab 7 (Masyarakat) membahas tentang perubahan budaya masyarakat Bugis. Dilanjutkan dengan penjelasan tentang kekerabatan, gender, perkawinan, stratifikasi, kerajaan, dan relasi patron-klien. Bab 8 (Kehidupan Spiritual dan Mental) membahas tentang sinkretisme, islam ortodoks, praktek keberislaman, pendidikan agama, ritual, musik dan sastra. Bab 9 (Kebudayaan Bendawi dan Kegiatan Perekonomian) membahas tentang rumah, pakaian, makanan, pertanian, penentuan waktu, nelayan dan perikanan, kerajinan, serta perdagangan laut. Khusus untuk kerajinan logam, Pelras menulis : "Dua jenis logam paling penting dalam kebudayaan Bugis adalah besi dan emas. Penguasaan teradap daerah penghasil kedua logam itulah yang agaknya menyebabkan kerajaan Luwu mengungguli kerajaan kerajaan Bugis lainnya...."(hal 296). Masih berhubungan dengan besi, Pelras melanjutkan : "Proses pembuatan senjata tradisional Bugis sarat dengan unsur unsur magis yang memerlukan ritual khusus oleh karena itu, pandai besi tertentu dianggap memiliki kekuatan luar biasa dan sebagian kalangan masih mengandalkan kekuatan badik luwu yang memiliki guratan yang tampak jelas yang konon merupakan sidik jari pandai besi yang menempa dan merautnya dengan tangan telanjang. Badik semacam itu dianggap sangat berbisa.....Senjata juga dipandang sebagai pembawa untung atau sial, bukan hanya dalam perang atau duel, namun juga dalam hal perdagangan dan percintaan" (hal. 298).  Disini Pelras memotret cara pandang orang Bugis terhadap senjata besi dengan sangat cermat.

Bab 10 (Dunia Modern) memulai pembahasannya dengan dibubarkannya VOC dan masuknya Inggris yang menyebabkan perubahan konstelasi politik di Sulawesi Selatan. Dilanjutkan dengan kejatuhan kerajaan tradisional di tahun 1906 setelah Belanda melancarkan politik pasifikasi yang berakhir dengan ditandatanganinya Korte Veklaring. Diterapkannya hukum Belanda, masuknya Jepang, pergerakan kemerdekaan, DI/TII menyebabkan perubahan sosial di Sulawesi Selatan. Pendidikan formal, perubahan alat tenun hingga boom coklat, adalah fenomena yang merepresentasi kemodernan pada manusia Bugis yang dijelaskan dalam Buku Manusia Bugis ini. Buku Manusia Bugis ini ditutup dengan merosotnya ekonomi sosial bangsawan Bugis serta potret keberhasilan Yusuf Kalla sebagai representasi orang Bugis modern.

Judul : Manusia Bugis
Judul Asli : The Bugis
Penulis : Christian Pelras
Penerbit : Nalar bekerjasama dengan Forum Jakarta-Paris 2005
Penerjemah : Abdul Rahman Abu, Hasriadi, Nurhady Sirimorok
Penyunting : Nirwan Ahmad Arsuka, Ade Pristie Wahyo, J.B. Kristanto 
Tebal : 450 halaman + xxxiv

Cerita tentang lembaga adat

Saat pertama mendengar wacana pembentukan lembaga adat 12 tahun lalu (Maret 2004), lembaga adat adalah hal yang amat asing. Sumbernya pun dari orang yang tak terduga, yaitu orang orang tua yang konon mendapat petunjuk. Beberapa orang memiliki gagasan pendirian lembaga adat, bahkan jauh lebih awal. Sekira pertengahan tahun 1980an. Zaman orde baru, zaman dimana ada orang berada pada kungkungan ketakutan untuk berpendapat. Ego pengetahuan saya kesampingkan. Niat baik dan cita cita mulia yang membuat saya tertarik. Perlahan, saya menemukan rasionalisasi terhadap sesuatu yang awalnya “berbau mistik” tersebut.Tentu tidak mudah mengusung gagasan tersebut, apalagi memperjuangkannya. Berbagai cibiran harus diterima dengan lapang dada. Mulai dari tuduhan “tindak subversif ala orde baru”, hingga “menghidupkan kembali feodalisme”. Hal itu mesti ditanggapi dengan baik. Lembaga Adat bukanlah mendirikan kerajaan yang bermaksud merongrong NKRI, malah sebaliknya, justru menguatkan NKRI dalam bingkai ke bhinekaan. Malah, mulai dari amandemen UUD 1945 yang memberi perhatian terhadap lokalitas, hingga permendagri no/71 tahun 2001.Tidak mudah untuk mendirikan lembaga adat. Orang orang pasti kaget. Masyarakat kita 21 tahun dalam kuasa Orde lama dan 32 tahun dalam kuasa Orde baru yang sama sekali tidak memberi ruang terhadap pembentukan lembaga adat. Namun seiring waktu, keterbukaan informasi di era reformasi, membangun kesadaran untuk membangun identitas kebangsaan melalui budaya, spesifiknya pendirian lembaga adat.Pada titik ini, mendirikan lembaga adat perlu diperbaiki fondasinya. Yaitu bangunan dasar pemikiran pentingnya pendirian lembaga adat. Sebab jika keliru, tentu fondasinya lemah. Lembaga adat mestilah sejalan dengan aturan yang berlaku di NKRI. Lembaga adat, mestilah menjadi pusat syaraf budaya yang disalurkan ke masyarakat sehingga ada ketahanan budaya dan identitas kebangsaan ditengah gempuran budaya asing. Lembaga adat mestilah berkontribusi terhadap pembangunan, khususnya manusia Indonesia. Lembaga adat mestilah bervisi kemanusiaan, sebab merayakan keberindonesiaan kita berarti menghapuskan praktek feodal dan perbudakan. Nah untuk itu, perlu kajian mendalam untuk mensinergiskan antara budaya, sejarah dan konteks kekinian. Mendirikan lembaga adat, tidak berarti kembali ke masa kerajaan dan masa penjajahan. Ia harus kekinian. Lembaga adat harus kekinian, tetapi tidak berarti harus mempermaklumkan pola pola organisasi yang tidak mengacu pada sistem adat budaya setempat. Disini menariknya.Seiring waktu, makin banyak yang tertarik dengan lembaga adat. Malah, perkumpulan lembaga adat juga makin beragam. Mungkin orang kagum dengan “bergaya tradisional” saat festival keraton. Kelihatan gagah mungkin pikirnya. Tetapi terpikirkah bahwa dibalik balutan “gaya adat” itu terdapat beban adat istiadat yang berat ? Ah sudahlah. Kurang bijak menilai orang lain. Itu haknya.Saya senang, banyak orang ingin mendirikan lembaga adat. Setidaknya, saya bisa berhenti untuk memikirkan dan mengusahakan mendirikannya. Pengorbanan selama 12 tahun, baik material maupun non material, biarlah Tuhan yang tahu. Yang saya pahami, andai berdiri lembaga adat, saya hanyalah seseorang yang duduk diluar pagar sambil tersenyum melihat para pembesar pembesar adat menjadikan dirinya “adat yang berjalan”.Mari minum kopi, merayakan kebahagiaan. Memaafkan dan memaklumi orang yang lupa diri. Semoga kita tidak ikut lupa diri gara gara lembaga adat. Untuk menjadi sebaik baik manusia (yang paling banyak manfaatnya), masih banyak yang bisa dilakukan. Setidaknya, dikehidupan yang fana ini, sudah berusaha meski itu sederhana.

Tanya jawab seputar Lembaga Adat


Tanya (T) : Bagaimana posisi lembaga adat di era sekarang ?

Jawab (J) : Sebuah negara akan kuat, bila pemerintah dan rakyatnya bersatu. Memaksimalkan peran masing masing dalam pembangunan. Lembaga adat, adalah organisasi non pemerintah yang eksistensinya diatur oleh Permendagri, merupakan mitra pemerintah dalam pelestarian budaya. 

T : Peran apa yang harus dilaksanakan oleh lembaga adat ?
J : Peran sebagai mitra pemerintah diatur dalam Pasal 4 Permendagri no.39 tahun 2007 antara lain Inventarisasi adat, seni, budaya daerah, kekayaan budaya dan peninggalan sejarah. Penyusunan rencana pengelolaan dan pengembangan, pemeliharaan serta pendayagunaan aset budaya. Penelitian dan sebagainya. 

T : Apakah mendirikan lembaga adat berarti menghidupkan neo-feodalisme ?
J : Kita kembali ke definisi Feodal yang berarti tuan tanah. Masalah pertanahan diatur oleh negara. Kita kembalikan pada aturan yang berlaku.

T : Tetapi spirit demokrasi memberikan ruang yang sama kepada warga negara, sedang lembaga adat berarti kita memediasi trah politik masa lalu. Bagaimana dengan itu ?
J : Pada zaman sekarang, masih ada trah politik kok. Bukan cuma di Indonesia. Bahkan di negara yang katanya paling demokratis yakni AS. Bisa dijelaskan mengapa pernah presidennya dari bapak ke anak ? Kita mesti berpikir jernih. Negara ada dua jenis. Pertama republik, kedua kerajaan. Negara Republik tetap memediasi trah politik tertentu, cuma suksesinya melalui pemilu. Sedang kerajaan nusantara dimasa lalu, suksesinya melalui penunjukan oleh raja sebelumnya, atau melalui mekanisme pemilihan adat secara terbatas. Namun kita mesti ingat bahwa Lembaga adat bukan kerajaan. Akan tetapi dalam pemilihan anggota dan pemimpin lembaga adat mengacu pada aspek historisnya.

T : Iya benar, lembaga adat adalah organisasi non pemerintah. Tetapi strukturnya tidak memediasi diluar trah politik masa lalu untuk turut berpartisipasi didalamnya
J : Struktur lembaga adat masih bisa dikembangkan. Ia tidak kaku. Artinya, selain mengacu pada struktur kerajaan dimasa lalu, bisa juga ditambahkan struktur yang bersifat fungsional dan profesi. Misalnya bagian ekonomi, pertanian, perikanan dan sebagainya. Sehingga orang orang yang diluar keturunan atau trah politik masa lalu, dapat berpartisipasi dibidang sesuai kemampuannya.

T : Membahas tentang struktur. Disitu kan disebut tentang wilayah kekuasaan dan pemerintahannya. Apakah ini tidak berarti tumpang tindih dengan pemerintahan daerah ?
J : Kembali lagi ke bentuk lembaga adat. Lembaga adat bukanlah kerajaan. Lembaga adat bukan negara dalam negara. Tetapi lembaga adat adalah organisasi non pemerintah yang menjadi mitra pemerintah dalam pelestarian budaya.

T : Tetapi pelestarian budaya tidak berkaitan dengan ekonomi, perikanan seperti yang disebutkan sebelumnya 
J : Budaya harus dipahami secara luas. Selain itu, lembaga adat harus berkontribusi terhadap pembangunan agar negara kita kuat.

T : Bagaimana hubungan antara perpolitikan di daerah dengan lembaga adat serta tokoh adat
J : Ini bagian penting dan sensitif. Namun jika kita berpikir jernih, seharusnya tokoh adat dan lembaga adat berperan sebagai benteng budaya. Nilai nilai budaya harus terimplikasi pada lembaga adat dan prilaku tokoh adat. Sehingga bisa menjadi perekat masyarakat. Di sisi lain, bangsa kita masih belajar berdemokrasi, dan cost sosialnya mahal. Betapa banyak masyarakat kita yang dulunya rukun, akrab, bersahabat, menjadi jauh bahkan bermusuhan hanya karena beda pilihan politik. Belum lagi beberapa kasus pembakaran kantor KPUD dan kantor pemerintahan pada beberapa pilkada. Pada ajang pilkada sering kita lihat retaknya sebuah keluarga. Nilai gotong royong dan kebersamaan semakin pudar. Nah pada titik ini, lembaga adat dan tokoh adat mestinya berperan sebagai perekat sosial, bukan sebagai tim sukses dan pendulang suara calon tertentu. Sehingga seharusnya tokoh adat dan lembaga adat itu netral. 

T : Bagaimana dengan dualisme tokoh adat sekaligus kepala daerah seperti di Yogya?
J : Kita tidak menyoal tentang Yogya yang punya histori dan regulasi tersendiri. Kepala daerah dengan wewenang yang sangat besar di era otonomi daerah ini, punya tugas yang sangat berat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Tidak perlu terlalu banyak dibebani dengan tugas tugas adat dan budaya. Sementara tokoh adat punya peran yang juga besar sebagai simbol adat budaya. Kedua jabatan itu punya tugas yang berat. Sulit menjalankan dengan sukses secara simultan.

T : Berarti bisa tidak simultan ?
J : Ya benar. Seorang tokoh adat punya hak politik sebagai warga negara. Dia berhak ikut pada kontestasi politik daerah. Namun, ia harus melepaskan jabatan dulu agar bisa fokus dengan tugas yang baru. Demikian pula sebaliknya. Seorang kepala daerah harus demisioner terlebih dahulu untuk dapat dipilih dewan adat sebagai pemimpin di lembaga adat tersebut. Agar juga bisa fokus dengan tugas beratnya yang baru.

T : Terkesan bahwa lembaga adat yang dijelaskan merupakan pemimpin kultur ?
J : Iya benar, lembaga adat dan tokoh adat harusnya bisa merekatkan masyarakat. Terutama yang beragam pilihan politik. Dibutuhkan pemimpin kultur yang bisa menengahi dan memediasi kemungkinan konflik horizontal.

T : Tetapi kan sudah ada Polri dan Pemda ?

J : Kalau sebuah masalah bisa diselesaikan secara baik baik, mengapa mesti dibawa ke ranah hukum ? Bukankah bangsa kita adalah bangsa yang cinta damai dan suka gotong royong? Setidaknya lembaga adat dan tokoh adat dapat membantu tugas Kepolisian dan Pemda

T : Bisa dipertajam tentang peran Pemda terhadap lembaga adat
J : Jelas dalam permendagri tentang pedoman fasilitasi lembaga adat.



T : Bisa dipertajam tentang istilah "Benteng Budaya" di konfrontasikan dengan pernyataan banyak orang bahwa "budaya menghambat pembangunan"
J : Baik. Kita berada di zaman teknologi informasi. Beda di zaman orba dulu, akses internet masih sangat terbatas, dan media dikontrol penuh oleh pemerintah. Saat ini, banyak perubahan sikap generasi muda akibat akses internet yang kurang sehat dan tayangan media yang kurang baik. Sementara masyarakat selalu butuh publik figur yang pantas diteladani. Sayangnya, publik figur yang diangkat bukan lagi tokoh agama atau orang yang berprestasi, tetapi orang yang pintar menyanyi, pintar acting. Sayang sekali, yang dipublish sering masalah keluarga mereka yang tidak mendidik, misalnya perceraian. Kita punya modal sosial, yaitu nilai budaya kita. Nah untuk menerapkan nilai budaya itu lewat edukasi. Baik secara teoritis melalui pendidikan formal maupun praktek melalui prilaku, sikap dan tindakan tokoh adat di sebuah lembaga adat. Bila lembaga adat bisa berjalan seperti ini, maka lembaga adat menjadi benteng budaya kita terhadap gempuran budaya asing. 

T : Belum terjawab pertanyaan tentang "Budaya menghambat pembangunan"
J : Entah pernyataan itu darimana. Namun berbicara budaya, baik lokal maupun asing ini perlu didialogkan. Kita setuju, kedisiplinan dan ketertiban ala barat itu baik diterapkan. Tetapi tidak untuk pergaulan bebasnya. Sementara budaya lokal, yang tidak relevan misalnya perbudakan, itu harus ditinggalkan. Tetapi nilai seperti gotong royong, kebersamaan, justru harus dikembangkan. Itu yang sulit ditemui dibarat yang cenderung pragmatis masyarakatnya. Nah kalau sudah begini, jelas mana yang menghambat mana yang tidak menghambat pembangunan.

T : Bagaimana dengan UU No.6 Tentang Desa yang menyebut tentang lembaga adat tingkat desa
J : UU No.6 tentang Desa ini perlu disesuaikan dengan konteks daerah mengingat histori daerah di Indonesia tidak seragam. Mengacu ke aspek histori sebuah daerah. Ada kabupaten yang bekas kerajaan yang dahulu membawahi kerajaan kerajaan kecil. Ada kabupaten yang gabungan kerajaan yang masing masing juga membawahi bekas kerajaan kecil. Untuk saat ini, lebih mudah mendirikan lembaga adat tingkat kabupaten bila kabupaten itu bekas sebuah kerajaan. Untuk gabungan kerajaan, ini butuh kajian khusus. Agak sulit mendirikan lembaga adat tingkat desa dengan pertimbangan bahwa banyak pewaris yang migrasi ke kota. Tentu sulit meminta mereka kembali ke desa untuk mendirikan lembaga adat di desanya. Sementara bila diisi orang lain, justru muncul kemungkinan konflik. Nah ini harus dihindari. Lembaga adat mestinya merekatkan masyarakat, bukan menciptakan konflik. Tetapi bila ada desa yang pewaris sahnya tinggal didesa itu. Tidak menjabat sebagai kepala desa, tentu sangat relevan mendirikan lembaga adat tingkat desa seperti amanah undang undang. Tetapi tentu masalah tiap desa di Indonesia tidak sama. Kita belum lagi membahas tentang bekas kerajaan kecil yang menjadi desa, kemudian dibelakang hari terjadi pemekaran desa. Ini juga membutuhkan kajian serius.

T : Mengapa kita menolak orang orang yang dianggap raja palsu ?
J : Kita memahami prinsip "right man on the right place" biarkan orang yang tepat menduduki posisi yang pantas. Sebab jika tidak, kita hanya menunggu kehancuran. Bisa dibayangkan kalau raja sebagai pemimpin adat (bukan kepala negara) diduduki oleh orang yang sekadar ingin mereproduksi status, orang yang ingin bergaya ala adat tanpa mengemban amanah, maka tunggu kehancuran adat budaya di daerah itu.

T : Berarti tidak setuju kalau kepala daerah otomatis menjadi ketua lembaga adat (raja) atau sejenisnya ?
J : Jelas. Kembali ke pembahasan diatas. Tugas kepala daerah untuk mensejahterakan rakyat itu sangat berat. Jangan lagi dibebani dengan tugas tugas kultural yang sebenarnya masyarakat bisa berpartisipasi sebagai mitra pemerintah. Lagi pula kurang apa wewenang sebagai kepala daerah di era otonomi ini ? Kepala daerah yang bijak adalah memahami posisinya sebagai pucuk pimpinan tertinggi didaerah, bukan turun kelas menjadi ketua sebuah organisasi non pemerintah yang bergerak bidang adat budaya. Posisi pembina atau penasehat itu sangat layak bagi kepala daerah

Manfaat berorganisasi bagi Mahasiswa

Di kampus, biasanya ada dua jenis organisasi yang dapat dimasuki oleh mahasiswa. Pertama, organisasi intra kampus, seperti BEM, Himpunan dan UKM sebagainya. Kedua, organisasi ekstra kampus, seperti HMI, PMII, IMM, GMKI dan sebagainya.

Pada beberapa kasus, minat berorganisasi bagi mahasiswa nampaknya menurun. Banyak hal yang mempengaruhinya. Bisa jadi karena model pengelolaan organisasi yang kurang inovatif. Bisa jadi karena kurang mampu menfasilitasi anggotanya untuk berkembang. Atau, boleh jadi karena budaya hedonisme yang semakin mengemuka.

kegiatan pengkaderan salah satu organisasi


Namun terlepas dari hal tersebut, tidak masalah bila kita mengangkat manfaat berorganisasi bagi mahasiswa. Setidaknya menjadi motivasi agar gairah berorganisasi bagi mahasiswa kembali bersemi :)

1. Melatih kemampuan manajerial
Berorganisasi berarti berinteraksi dengan banyak orang dan banyak karakter. Dalam organisasi terdapat struktur dan tupoksi. Kemampuan manajerial tidak melulu dominasi pada jabatan puncak. Namun juga pada posisi yang lebih rendah. 
Kemampuan manajerial akan terasah dengan kerjasama berbagai karakter dengan tugas masing masing. Pada posisi puncak, seseorang harus belajar untuk bijak dan berempati pada bawahannya. Serta belajar untuk menggerakkan orang lain tanpa melukai perasaannya. Pada posisi bawah, seseorang harus berlatih bekerjasama dengan karakter lain.
Tidak selamanya seseorang berada pada posisi terendah. Ruang ruang karir dan promosi jabatan terbuka di organisasi mahasiswa. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami peran tiap posisi. Tidak kemaruk posisi, tetapi tetap punya visi untuk pengembangan diri.

2. Melatih kemampuan verbal
Ketika mendengar pembicaraan orang lain, seringkali kita mendapati orang yang menyimak mengatakan, : "Sebenarnya begitu maksudku, cuma susah saya katakan". Pada kasus seperti itu, hampir dapat dipastikan bahwa yang menyimak tersebut adalah orang yang kurang berorganisasi. 
Dengan berorganisasi, seseorang akan terlatih berbicara di rapat atau forum lain. Dengan demikian, kemampuan verbal akan terasah dengan sendirinya.
Kemampuan ini sangat penting, bagaimana berkomunikasi secara verbal dengan menyusun diksi kalimat yang tepat sesuai konteks. Seseorang yang terlatih, akan sangat paham bagaimana berkomunikasi secara verbal kepada orang awam, politisi, akademisi dan sebagainya.
Sebagai contoh, bila seseorang hendak menggerakkan orang lain. Yang satu telinganya cenderung peka. Maksudnya, bila hendak diperintah, harus sehalus mungkin. Yang lainnya mungkin telinganya tidak terlalu peka

3. Membangun jaringan
Masa mahasiswa adalah masa dimana kepribadian dan skill dibentuk. Selain itu, jaringan dikembangkan. Dengan menjadi pengurus organisasi, seseorang bisa lebih mudah berinteraksi dengan senior-seniornya yang telah sukses. Juga mudah berinteraksi dengan pemerintah, TNI-Polri, dan bahkan dari organisasi lain.
Pengurus organisasi berinteraksi dengan berbagai unsur tersebut pada berbagai momen, dan program kerja. Dari sini, pengurus bisa dikenal. Dan bila silaturahmi dirawat, maka kedepan menjadi modal besar dalam meraih cita-cita. 
Pada satu kondisi, bahkan ijazah hanya sekadar formalitas dalam mencari kerja, apabila di sebuah instansi adalah bagian dari jaringan yang pernah dirawat semasa mahasiswa.

4. Peluang dapat jodoh
Berorganisasi berarti bergaul dengan banyak orang. Bisa jadi dalam organisasi itu sendiri, bahkan diluar organisasi tersebut. Ini berarti, ruang ruang untuk mendapatkan jodoh terbuka lebar.
Jodoh ideal adalah yang memiliki kesamaan dalam arti cara pandang. Sehingga tidak sulit dalam membangun rumah tangga kelak.
Berorganisasi berarti melatih mental, skill dan kepribadian. Orang yang berorganisasi akan terlatih dengan sebuah cara pandang baru dalam melihat persoalan. Bila sebuah pasangan berasal dari latar organisasi, mereka cenderung memiliki cara mengelola rumah tangga yang lebih simpel dan lebih dapat saling memahami.

Demikian 4 manfaat berorganisasi bagi mahasiswa. Dengan banyaknya pilihan organisasi yang tersedia di kampus, maka tak sulit untuk menempa diri dengan berorganisasi.

Dialog Kebenaran III

Terpuruk. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan La Marufe' saat ini. Ia dipaksa berhenti dari pekerjaannya oleh bosnya. Pekerjaan yang membuatnya hidup layak. Pekerjaan yang membuatnya dapat membantu sesama. Parahnya, bosnya terhasut oleh seseorang yang dengki pada La Marufe'. Orang dengki tersebut adalah orang yang diperlakukan baik oleh La Marufe'. Meski teman sekantor La Marufe' selalu mengingatkan untuk berhati hati, namun La Marufe' selalu berprasangka baik. Sekarang, La Marufe' sudah menikmati prasangka baiknya. Yaitu kedengkian seseorang yang dianggap sahabat oleh La Marufe'. Air susu dibalas air aki, mungkin peribahasa yang tepat.
Pikiran dan perasaan La Marufe' berkecamuk. Satu sisi, ia ingin mengikhlaskan perlakuan buruk orang padanya. Namun sisi lain, ia punya kemampuan untuk berbuat buruk serupa. La Marufe' menyalahkan konsep "prasangka baik" dalam agama yang dipahaminya. Sebab "prasangka baik" membuatnya tidak sempat mengantisipasi perlakuan dengki sahabat padanya.

La Marufe' pun ingat, sahabatnya itu pernah ia bantu berkali kali. Seolah masih belum bisa terima kenyataan bahwa orang bisa jahat meski diperlakukan baik, La Marufe' menjadi depresi. Belum lagi, uangnya Rp.40 Juta dibawa lari orang, kebun dijual untuk biaya hidup, utang menumpuk, La Marufe' merasa semakin kacau.
Disaat puncak depresinya, ia mulai ingin mengumpat nasibnya. Namun diwaktu bersamaan, La Marufe' melihat sepasang suami istri yang renta. Suaminya buta, untuk berjalan harus dibimbing istrinya. Mereka sepasang suami istri yang tak punya rumah dan harta. Hidup mengandalkan sedekah orang lain. La Marufe' terpukul. Matanya masih baik. Ia punya rumah dan sedikit harta. Harta yang lebih banyak dari harta suami istri renta nan miskin itu. 

Lalu, La Marufe' berjalan dan berhenti disuatu tempat. Ia melihat pengamen yang anggota tubuhnya tak lengkap. Menyanyikan lagu tentang semangat hidup. Untuk kedua kalinya, La Marufe' tersentak. Ia melihat tangannya lengkap. Dengan tangannya ia bisa mengetik di laptopnya. Bisa memainkan gitar dan berbagai alat musik melebihi pengamen itu. Bisa membuat karya karya dari batu maupun kayu. 

La Marufe' tak ingin bersyukur membandingkan dirinya dengan sepasang suami istri renta dan pengamen itu. Sebab baginya, itu sama saja tidak menghargai kekurangan orang lain. La Marufe' sadar bahwa seharusnya ia tidak menyerah. Ia seharusnya berbuat lebih banyak lagi. Seharusnya La Marufe' membantu sepasang suami istri yang renta dan buta itu.

Move on...ya move on...La Marufe harus move on...live must go on...ini persoalan perspektif pikirnya. Bila sebuah masalah dilihat dari dalam masalah itu, maka seolah tidak ada masalah lain. Namun bila keluar dari masalah itu kemudian memandang lagi ke masalah tersebut...ternyata masalahnya adalah salah satu dari sekian ribu masalah yang boleh jadi lebih besar dan lebih berat.

Bersabar dan bersyukur. Itu kuncinya. Waktu terus berjalan. Ada saat suka, ada pula duka. Suka duka datang silih berganti. Sekarang ia dititik nadir kedukaannya. La Marufe bangun dan kembali bekerja. Sebab awal dari suka telah menanti

Kado Tuhan di bulan Desember

Perairan Siwa Teluk Bone, 6 Desember 2014

Memancing bersama 2 orang teman (yang tidak pandai berenang) bersama tukang perahu. Langit dan laut nampak tenang sejak pagi hingga siang. Namun tak banyak hasil pancingan. Jam 2 siang, tangkapan kami bertambah. Namun langit mulai gelap dan ombak mulai besar. Para nelayan dan pemancing lain buru-buru masuk ke dermaga. Kami masih ditengah laut, sekitar 5-10 km dari pantai. Kedalaman laut sekitar 120-150 meter. Senar pancingku hampir habis untuk sampai kedasar. Ikan semakin bersemangat memakan umpan kami, kami pun semakin bersemangat memancing.

Sekitar jam 3-4 sore, angin kencang dari arah selatan. Berbeda dengan arus laut, yang justru dari arah utara. Buru-buru kami angkat jangkar. Namun tak bisa menghindari ombak besar setinggi 2 meter. Laut yang sebelumnya tenang bersahabat, tiba tiba memperlihatkan keperkasaannya. Untung tukang perahu kami cukup tangkas. Meski bibirnya putih karena kaget dengan terpaan ombak yang tiba tiba menghantam.

Kutipan ke-3 dari terakhir kamera digitalku

Lolos dari badai pertama, kami bangga. Sepanjang penglihatan mata, tak satupun perahu jolloro selain perahu kami. Rasanya, ikan dilaut milik kami semua. Tak ada pemancing yang lain. Kami melanjutkan pemancingan. Saya masih menyempatkan diri selfie sekali dua kali. Ternyata itulah kutipan terakhir kamera digitalku yang belum tergantikan hingga hari ini.

Tidak jauh dari lokasi pertama, jangkar diturunkan. Kami memancing lagi hingga jam menunjukkan pukul 5 sore. Dugaan kami keliru. Ternyata, badai datang lagi. Sekarang arahnya yang berbeda. Jika pada badai pertama, angin dari arah selatan, sekarang dari arah utara. Sebaliknya, arus air pun demikian. Badai pertama, arus dari arah utara, sekarang dari selatan. Kami heran, kok bisa demikian. Wajar, sebab kami tidak mewarisi pengetahuan laut leluhur kami.

Bentrok arus air laut dengan angin yang berbeda arah menghasilkan ombak setinggi 4 meter. Sekali lagi buru buru kami angkat jangkar. Perahu jolloro kami amat mudah terbalik menghadapi ombak seperti itu. Perahu kemasukan air. Kami berdoa, mungkin inilah saat terakhir kami. Mungkin ada teman yang mengumpat hobi mancing yang dapat berujung petaka. Saya melihat box ikan tangkapanku. Dalam benakku, bila perahu ini terbalik, saya hanya berusaha meraihnya agar tetap dapat terapung. Karena tak seorang pun dari kami membawa pelampung.

Hantaman ombak ke bagian depan perahu jolloro membuat perahu kemasukan air. Saya yang duduk paling depan, merasakan bagai air satu drum yang disiramkan ke tubuh saya. Semua basah kuyup. Kamera digitalku pun rusak. Buru buru plastik bulat saya raih untuk jadikan gayung. Untuk mengeluarkan air dari perahu sebanyak dan secepat mungkin. Berlomba dengan waktu dan ombak yang tak henti menghempaskan perahu.

selfie sebelum badai
Bayangan kematian kembali datang. Terbayang, bagaimana sedih dan tangis anak istri serta keluarga kami, bila mendengar 3 orang pemancing dan seorang tukang perahu hilang dilaut. Terbayang, bagaimana kami terombang ambing dilaut lepas dengan ombak 4 meter menjelang malam dan tak seorang dan perahu pun disekitar kami.

Pasrah...ya pasrah...biarkanlah Tuhan mengambil milikNya. Bila ini jalan kami untuk kembali padaNya, ya biarlah. Toh semua akan kembali padaNya. Teman teman berpegang erat di perahu. Tubuhku makin basah kuyup tersiram ombak menerpa perahu. Bagaikan air berdrum drum yang disiramkan ketubuhku. Berpegang pada sisi kiri kanan perahu adalah pilihan terbaik agar tak terjungkal dari perahu yang semakin tidak karuan posisinya. Dipermainkan ombak raksasa. Resiko berada didepan yah begitu.

Tukang perahu berusaha keras menghindari dengan mengitari ketinggian ombak. Ia mengarahkan perahu ke arah pantai. Dalam pikiran kami, kalaupun perahu kami terbalik, kami masih dekat dengan pantai. Bukan lagi 5-10km dari pantai yang tak mungkin kami renangi. Apalagi 2 orang teman kami tidak tahu berenang.

Pelan tapi pasti, kami menjauhi ketinggian ombak dan mendekati pantai. Setelah 1 jam menghadapi amukan ombak dan angin, akhirnya badai pun reda. Kami memilih lokasi sekitar 1 km didekat pelabuhan BangsalaE untuk menurunkan jangkar. Kedalamannya sekitar 20-30 meter. Sedikit kecewa, tapi setidaknya kami masih bisa berharap dapat ikan kerapu atau trevelly.

Dan strike. Bergantian kami merasakan sensasi tarikan ikan. Kenikmatannya mengobati rasa takut dan khawatir dari dua kali badai tadi sore. Tak terasa malam makin gelap. Kami terus menikmati pemancingan hingga sekitar jam 6:30. 

Badai ganas datang lagi. Sungguh diluar dugaan. Kali ini arahnya kembali berlawanan. Arus dari arah timur (tengah laut) dan angin dari arah barat (darat). Ini berbahaya, sebab mendorong perahu kami kembali ketengah. Buru-buru tukang perahu, yang kami gelari Nabie, angkat jangkar dan pulang. Walau tak lagi bertemu ombak setinggi 4 meter, namun kami masih harus berjuang hingga sampai kedermaga. Menghitung tangkapan kami dan bersyukur. Kami masih hidup.

24-26 Desember 2014
Kenangan perairan Siwa teluk Bone masih terasa. Kami sekeluarga (kakak, ipar dan tante), berencana ke Malaysia. Setelah cek jadwal pesawat, kami diberi dua pilihan. Pilihan pertama, naik Air Asia. Rute, Makassar-Surabaya-Singapura. Harga tiket 1,3 juta. Pilihan kedua, Lion Air. Rute Makassar-Surabaya-Batam. Harga tiket 1,5 juta.

Kakak mengajak kami berdiskusi mengenai pilihan ini. Kami setuju menyesuaikan rute. Singapura kemudian Johor lanjut Kuala Lumpur lalu pulang ke Makassar. Harga tiketnya pun bersahabat. Akhirnya kami sepakat booking tiket Air Asia. 

Sayang sekali, mendadak tiket Air Asia naik begitu cepat. Dari 1,3 juta menjadi 2 juta. Kembali kakak mendiskusikan dengan kami. Akhirnya, dengan berat hati kami sepakat untuk naik lion air yang harganya tetap 1,5 juta. Otomatis rute kami juga harus berubah. Batam-Johor-Singapura-Johor-Kuala Lumpur-Makassar.

Pesawat take off dari Makassar jam 3 dini hari. Tiba di bandara Juanda Surabaya jam 6 pagi. Pesawat Air Asia yang hampir kami booking, baru saja take off dari Surabaya ke Singapura. Kami masih harus transit di Juanda hingga jam 11 siang. Tentu membosankan. Rasanya, ingin mengutuk, mengapa tiket Air Asia tiba tiba naik. Selain murah, kami juga tidak perlu mengubah rute kami. Kami juga seharusnya telah tiba di Singapura. Bukan duduk menunggu di Juanda selama 5 jam.

Di sudut, ada orang marah marah. Mereka komplain ketinggalan Air Asia. Dalam hati saya tertawa. Ada teman saya yang gagal naik Air Asia. Bosan menunggu, saya menonton TV. Jam 9 atau 10 pagi, ada berita. Pesawat Air Asia yang hampir kami tumpangi, hilang kontak.

Kaget, tegang, bersyukur, sedih, dan berbagai perasaan bercampur aduk jadi satu. Terbayang, seandainya kami naik Air Asia. Tentu, keluarga kami akan khawatir. Segera saya menelpon keluarga bahwa saya baik baik saja. Tetapi kami masih harus naik pesawat jam 11.

Akhirnya jadwal keberangkatan tiba. Kami harus segera naik pesawat. Tidak ada urusan perasaan pribadi, pokoknya naik atau batal. Dan pilihannya, ya naik. Apapun yang terjadi. Dalam pikiran saya, bila ajal telah tiba, ia tidak mempersoalkan tempat. Apakah di udara, di laut atau bahkan dalam kamar dirumah kita.

Penerbangan berjalan lancar. Di angkasa Jawa Timur, Tengah dan Barat pesawat terbang dengan indahnya. Memasuki angkasa disekitar Sumatera, pesawat mulai bergoyang. Seperti mobil yang melewati jalan rusak. Dalam benakku, mungkin disekitar inilah pesawat Air Asia jatuh. Mungkin pesawat itu ada dibawah sana. Dan bisa jadi kami pun ikut jatuh, Tetapi saya sadar, Tuhan itu ada. Ajal datang kapan saja. Yang perlu hanyalah ikhlas dengan apapun kehendakNya. Sebab tiada daya dan upaya selain dariNya.

Mendekati bandara di Batam, ketegangan belum berakhir. Kami masih harus menerima kenyataan bahwa pesawat masih berputar putar karena ada sedikit persoalan teknis sebelum mendarat. Untung hal itu tidak berlangsung lama. Kami segera mendarat di Batam dengan selamat. 

Dari Bandara, segera kami ke pelabuhan naik fery ke Johor Malaysia. Kami berburu dengan waktu jadwal keberangkatan Fery. Sebab bila terlambat, kami harus menginap di Batam. Dan itu berarti, kesempatan berlibur menjadi kurang.

Di atas ferry, ombak menghantam. ABK berbicara melalui pengeras suara agar kami lebih hati hati. Sebab sekarang ombak lebih besar dari biasanya. Saya melihat keluar, ombak Teluk Bone lebih besar daripada ombak Selat Malaka yang memisahkan Johor dan Batam. Namun, laut tidak boleh dianggap enteng. Sekali lagi, saya harus memasrahkan hidupku, bersiap apapun terjadi. 

Selama di Malaysia, berita yang TV yang dominan cuma dua. Pertama, Pesawat Air Asia yang hampir kami tumpangi dan bencana banjir di salah satu negara bagian Malaysia. Sultan Johor mengeluarkan larangan merayakan tahun baru dan petasan untuk menghormati korban Air Asia dan Bencana Banjir.

Setelah jadwal libur kami selesai, saatnya pulang. Kami ke Kuala Lumpur untuk naik pesawat tujuan Makassar. Kami bertiga pulang, kakak tetap tinggal untuk menyelesaikan studinya. Saat itu kami naik pesawat Air Asia. Saat itu, maskapai Air Asia sedang menerima kritikan pedas dari berbagai pihak atas jatuhnya pesawatnya. 

Lama penerbangan, 3,5 jam dari Kuala Lumpur ke Makassar. Satu jam pertama, masih diatas jazirah melayu cuaca cerah. Dengan jelas terlihat daratan, pohon, mobil dan rumah. Hingga perlahan yang terlihat dibawah hanya laut, kapal meski sangat kecil. Tentu ketinggian pesawat bertambah dan berada diatas Selat Malaka. Satu jam pertama, penerbangan sangat menyenangkan.

Memasuki jam kedua, tak terlihat apapun dibawah sana. Goncangan tak henti terasa didalam pesawat. Nampaknya pesawat mencoba menembus badai diluar sana. Bayangkan kematian kembali hadir. Tetapi hanya pasrah yang dapat dilakukan. Untuk tidur, sangat sulit. Sebab pikiran berkecamuk. Mata terus terjaga. Goncangan pun tak terhenti. 

Memasuki jam kedua, sempat langit dibawah terbuka. Yang sempat saya lihat adalah hutan. Dalam pikiranku, mungkin kami berada diatas kalimantan. Ketika masih ingin melihat kebawah, kembali tertutup awan. Goncangan berlanjut tak henti.

Akhirnya, tiba tiba langit terbuka. Ternyata pesawat terbang semakin rendah. Laut, darat, pulau nampak jelas. Rasanya ketinggian pesawat tidak melebihi 1000 meter. Jejeran pulau Samalona, Barang lompo, Barang Caddi terlihat jelas. Demikian pula cahaya lampu kota Makassar. Dalam pikiranku, bila ternyata pesawat yang kami tumpangi harus jatuh, setidaknya mayat kami tidak sulit ditemukan tim SAR. Pasrah menghadang maut, sambil tersenyum bila akhirnya kelak saya mati dan tidak membuat kesulitan tim SAR untuk menemukan mayatku. Saya akan dimakamkan dengan layak pikirku sambil tersenyum.

Setahun sebelumnya
Program penghancuran karakter berjalan secara halus, tersembunyi dan mematikan. Targetnya, adalah saya. Efek penghancuran karakter itu membuat masa depanku, masa depan anak anakku menjadi suram. Namun, saya masih hidup. 

Dalam hidup yang sengsara, tidak ada alasan untuk mengeluh. Sebab, tak lama kemudian akan ada orang yang saya temui. Orang yang hidupnya jauh lebih sengsara dariku. Dan itu bukan sekali, tapi berkali kali. Tuhan menjawab kegalauanku dengan memperlihatkan orang yang lebih susah. Seolah Tuhan ingin berkata padaku, bersyukurlah dengan apa yang ada pada dirimu.

Kado Tuhan Bulan Desember
Selama 2 tahun terakhir, banyak pelajaran dari Sang Maha Tahu tentang makna kehidupan dan kematian. Banyak ruh telah pergi menghadapNya, Dia yang Menghidupkan, Dia yang Mematikan. Siap tidak siap, jika waktunya tiba, harus siap. Lalu apa yang dipersembahkan pada Sang Pemilik Segala Sesuatu ?

Jabatan ?.....ah.....tidak ada presiden, menteri, gubernur, bupati, anggota kpu, ketua jurusan, professor, konsultan, camat dimata Tuhan. Apa yang dibanggakan ?
Harta ?.....tanah hanya menjepit dikuburan. Uang, tak dapat dibelanjakan di akhirat. Mobil ??? ah tidak berguna
Amal ?....tapi kan sangat sedikit. Sedangkan membalas nikmat Tuhan saja kita tidak mampu, lantas mengapa merasa amal kita cukup untuk masuk surga ?

Hmmmmmm....................

Banyak orang serakah dan tamak saat ini. Sampai hati mengorbankan keluarga dan sahabat demi harta dan jabatan. Tuhan memberikan kadonya di bulan Desember. Yang hanya dimengerti bagi orang yang paham arti hidup dan mati. Arti memaknai kehidupan dan kematian.

Hidup adalah siklus. Setelah kehidupan, ada kematian. Setelah Desember, akan ada Januari. Mari angkat kopinya dan merayakan kehidupan. Persoalannya adalah, apakah di bulan Januari kita menjadi orang yang lebih baik dibanding bulan Desember.

Iyya teppaja kusappa
Paccolli loloengngi
Aju MarakkoE

(yang tak henti kucari, yang menumbuhkan pucuk muda, kayu kering)

Cerita Rp.500M (berrrr)

Echa alias Reza, pengusaha turunan Arab yang sering disebut inisial R sedang galau. Pasalnya, tadi malam ia bermimpi tentang tanah leluhurnya. Tanah kelahiran Rasulullah, yang menjadi asal para penyebar agama di nusantara. Lalu dalam mimpinya, ia bertemu dengan seseorang yang bertanya mau ia apakan harta yang berlimpah. Sementara dunia hanya sementara. Bukankah sebaiknya ia beramal saleh ?
1/500juta dari 500M
R terbangun dengan keringat dingin. Ia begitu tertekan. Ia tersadar, ia hidup bermegah megahan ditengah penduduk asli nusantara yang miskin bahkan kelaparan. Sementara, ia menghisap rezeki ditanah nusantara yang kaya, tetapi leluhurnya adalah pendatang dari tanah Arab. Tanah para Nabi. Tak lama, ia teringat seorang karyawannya yakni La Marufe. Semua orang menyebut La Marufe adalah orang jujur. Segera ditelponnya La Marufe agar segera merapat diruangannya pukul 08.00.

Ditempat dan waktu yang ditentukan, pak bos R telah hadir. Tak ingin terlambat, La Marufe datang terlebih dulu sambil menunggu dipersilahkan masuk. Pak bos R menceritakan mimpinya pada La Marufe dan meminta pandangannya. "Saya takut pertanyaan malaikat nanti Marufe" : kata Pak Bos MR. "Apa yang bisa saya bantu Pak Bos" : tanya Marufe. "Kamu kan orang jujur, tolong bantu saya menginvestasikan Rp.500 M agar ada amal jariyah saya kelak setelah meninggal" : tutur pak bos cemas. "Tetapi, saya ingin mendengar pandanganmu, Marufe. Bila kuberi engkau Rp.500M dalam jangka 5 tahun kedepan, apa yang kau lakukan" : lanjut pak bos R.

La Marufe menghela nafas panjang. Singkat kata, ia memulai presentasinya.
Pak Bos, pertama saya akan mencari orang orang jujur dan berkompeten sebagai tim work. Bukan titipan orang orang tertentu yang tidak punya 2 syarat itu. Kemudian saya akan buatkan divisinya. Divisi ekologi, Divisi ekonomi, Divisi Sosial Budaya, Divisi litbang. Tidak perlu struktur yang gemuk. Yang penting, orang orangnya bisa bekerja efisien dan efektif.

Pak Bos R menyimak. La Marufe melanjutkan presentasinya

Divisi Ekologi. Akan melakukan penanaman kembali pada hutan hutan yang telah digunduli. Ditanami dengan tanaman endemik agar tak punah. Ditanami dengan tanaman produksi, agar bernilai ekonomi, Ditanami dengan tanaman obat herbal, agar bisa bermanfaat bagi kesehatan. Ditanami dengan berbagai spesies agar menjadi rumah bagi hewan. Divisi ini juga akan melakukan transplantasi karang, agar kita bisa meminimalisir kerusakan terumbu karang. Akibat keserakahan manusia yang gemar membom ikan. Divisi ini juga melakukan pengerukan terhadap danau dan sungai yang mengalami sedimentasi.

Pak Bos menyela. Mengapa mesti ada divisi ekologi Marufe ?

La Marufe melanjutkan. Begini pak bos. Manusia hidup diatas bumi, lalu demi harta, manusia tega merusak dan menghancurkan alam. Akibatnya, kembali pada manusia sendiri. Setidaknya, kita berterimakasih pada alam atas segala kekayaannya dengan mengusahakan keseimbangan ekologis

Pak Bos mengangguk, lanjutkan Marufe

Divisi Ekonomi. Kita akan buatkan lembaga ekonomi, yang memberi dana bergulir pada pengusaha kecil dan menengah. Kita juga membuat peluang peluang usaha dengan memanfaatkan hal hal sederhana yang ada disekeliling. Berbagai upaya peningkatan ekonomi kecil menengah akan dimaksimalkan. Tetapi kita tidak akan memberi mereka mimpi dapat bonus kapal pesiar setelah berhasil memprospek orang.

Divisi Sosial Budaya. Kita akan berdayakan para seniman lokal. Mereka harus diberi penghargaan yang layak. Setidaknya tiap pekan, ada pementasan agar mereka tetap eksist. Dengan demikian, generasi muda juga punya kesempatan untuk menikmati budayanya sendiri. Anak muda harus disibukkan dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Mendukung tiap even, mulai dari festival musik hingga road race. Supaya mereka tidak lagi mendengar istilah "bagus kegiatanmu dek, tapi tidak ada anggaran". Divisi ini akan membuat pelatihan dan festival film pendek antar sekolah secara berkala. Supaya para remaja lebih sibuk membuat film karya mereka sendiri daripada menikmati sampah yang bernama sinetron. Selain itu, membuat film sendiri, lebih mengasah kreativitas para remaja ketimbang nonton infoTAImen.

Divisi Litbang. Akan melakukan penelitian diberbagai bidang. Mulai dari budaya budaya yang terancam punah. Naskah tua. Artefak dan berbagai bukti sejarah. Sebab jika sebuah bangsa kehilangan sejarahnya, maka otomatis ia kehilangan identitasnya. Kita harus membangun bangsa yang kuat dan berkarakter. Dan untuk itu, kita harus menggali sejarah dan budaya. Kita juga harus meneliti tentang pengobatan alternatif. Baik itu bekam, atau pengobatan herbal. Sebab, kesehatan jauh lebih penting daripada formalitas "masuk rumah sakit" yang administrasinya berbelit belit yang harus diselesaikan pasien.  Divisi litbang juga harus meneliti spesies spesies endemik yang terancam punah. Divisi ini juga harus meneliti teknologi tepat guna. Agar tidak tergantung lagi pada alat yang mahal. Divisi ini harus menemukan mesin yang berbahan bakar air. Agar tak ada lagi orang yang tergantung pada minyak dan mafia minyak seperti pak boss. Berbagai hasil penelitian ini menjadi rekomendasi bagi divisi lainnya.

"Apakah Rp.500 M habis dengan itu semua Marufe "? Tanya pak bos R. Soalnya, pendapatan harian saya Rp.60M. Bagaimana menghabiskan itu semua ? Bagaimana kalau kita bangun rumah ibadah ?

Itu bagus pak Boss. Tapi lebih bagus lagi jika orang yang mau kerumah ibadah yang dibangun. Buat apa mesjid berkubah emas jika orang yang shalat hanya melakukan gerak gerik menyerupai shalat. Gerakan menyerupai shalat tetapi tidak membuatnya menghindari perbuatan keji dan mungkar. Pak Boss, banyak mesjid didaerah pelosok yang kondisinya kurang baik. Ini yang harus diperbaiki pak boss. Tetapi, kita juga harus perbaiki hati orang orang yang kondisinya juga kurang baik. Negeri asal pak boss penuh dengan pertumpahan darah. Bangunlah rumah ibadah dan mesjid yang didalamnya orang saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menghormati. Bukan saling mencaci, dan berkelahi.

Bila masih ada dana tersisa, kita akan buat jalan dan jembatan di daerah pelosok. Agar transportasi masyarakat lancar. Saya kira, dengan pendapatan Rp.60 M/hari, kita bisa membangun jalan dan jembatan berkilo kilo

Adapun manfaatnya untuk pak Boss
Semua orang yang meningkat usahanya dari divisi ekonomi, maka pak boss mendapat pahala yang sangat luar biasa. Sebab, boleh jadi ada orang berbuat jahat karena miskin. Namun karena pak Boss menyelamatkan orang dari kemiskinan, maka orang itu terhindar dari kejahatan. Pahalanya pasti untuk pak Boss

Para leluhur nusantara yang diselamatkan sejarahnya dari divisi sosial budaya akan senang hati menemani pak boss di akhirat nanti. Sebab boleh jadi tokoh sejarah itu telah terlupakan, akan tetapi dengan penggalian sejarah itu, tokoh sejarah itu akan bangga berteman dengan pak boss yang kelak juga menjadi tokoh sejarah. Jadi sesama tokoh sejarah duduk berdampingan. Adapun para generasi yang selamat dari proyek penghancuran generasi melalu berbagai macam cara tersebut, maka pak Boss mendapat pahala yang sangat luar biasa. Bayangkan kalau ada orang yang boleh jadi akan teracuni otaknya oleh sinetron dan infoTAImen, tetapi mampu berkarya dan menggali kreativitasnya. Maka pak boss menyelamatkan banyak umat manusia. 

Bila divisi ekologi bekerja maksimal. Maka hewan dan tumbuhan yang bisa dikonservasi akan berterimakasih dan mendoakan pak boss. Tidak apa apa bila pohon sawit tidak mendoakan pak bos. Tetapi orang utan, kayu ulin, rotan dan berbagai spesies endemik baik yang terancam punah atau tidak, akan sama sama mendoakan pak boss. Belum lagi orang orang yang sehat melalui penggunaan pengobatan herbal. Mereka bisa sembuh dengan murah, tanpa harus teriak teriak meminta pelayanan kesehatan gratis. Toh obatnya ada dihalaman rumah mereka. Belum lagi doa para nelayan yang mendapatkan ikan melimpah, karena terumbu karang kembali hidup. Doa para divers yang menikmati pesona alam bawah laut. Apalagi kalau menjadi obyek wisata, toh bisa menghidupi masyarakat setempat.

Selama orang beribadah di rumah ibadah yang pak boss perbaiki, maka selama itu pula pahala pak boss mengalir. Selama orang beramal saleh karena usaha pak boss, maka selama itu pula pahala pak boss lancar. Selama orang menggunakan jembatan dan jalan yang pak boss bangun, maka selama itu pula pahala pak boss lancar.

La Marufe menjelaskan dengan penuh semangat. Pak Bos R menyimak dengan mata berbinar binar. Tiba tiba air di ember La Marufe tumpah. Ia baru tersadar, bahwa ia sedang melamun sambil menampung air di ember. Cucian masih banyak, dan ia tak mampu beli mesin cuci. Dan ia juga belum mandi.

Quo Vadis Lembaga Adat ?

Berdasar ayat 1, pasal 32 UUD 1945 amandemen keempat disebutkan, "Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia ditengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai nilai budayanya". Untuk merealisasikan hal tersebut, pemerintah melalui Mendagri menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No. 39 tahun 2007 tentang Pedoman Fasilitasi Organisasi Kemasyarakatan Bidang Kebudayaan, Keraton, dan Lembaga Adat dalam Pelestarian dan Pengembangan Budaya Daerah.

Sebuah acara adat di Sarasa, Kec.Pammana

Sejak reformasi bergulir, banyak lembaga adat yang terbentuk. Niat awalnya tentu melestarikan budaya. Dari titik ini, penguatan budaya daerah tentu akan menguatkan budaya nasional. Sekaligus, meminimalisir efek negatif serapan budaya asing yang seolah tak terfilter lagi.

Ada jeda yang cukup lama, antara bubarnya kerajaan-kerajaan nusantara dengan terbentuknya lembaga adat. Hal ini menyebabkan, lembaga adat sulit menemukan bentuk idealnya. Beberapa penyebabnya antara lain :

1. Sengketa antar pewaris
Setelah bubarnya kerajaan, raja terakhir umumnya dijadikan bupati di nusantara. Sayangnya, tidak semua bekas kerajaan melantik putra makhota untuk memilih raja berikutnya. Setelah dua atau tiga generasi, terjadi sengketa waris antara sepupu sekali, paman - kemenakan, antar saudara/saudara tiri dan sebagainya.

2. Kurang/habisnya pusaka
Pusaka merupakan simbol kerajaan. Banyak pusaka yang terjual keluar negeri dimiliki kolektor. Entah karena kesulitan finansial atau persoalan lain sehingga pusaka terjual. Belum lagi perebutan pusaka kerajaan oleh ahli waris. Sehingga sulit menemukan bekas kerajaan yang pusakanya masih terjaga dan terawat.
Belum lagi bekas istana yang rusak, dijual, atau hancur. Sehingga walaupun ada pewaris untuk lembaga adat, namun tidak ada lokasi untuk menyelenggarakan amanah lembaga adat.
Di daerah di Indonesia bekas konflik/pemberontakan/perang antara 1950-1965 juga banyak pusaka yang hilang, dirampok, ditanam, dicuri atau dirusak.

3. Dilupakannya atau hilangnya aturan adat
Tiap kerajaan memiliki aturan adat yang detail. Setelah melebur ke RI, otomatis pelaksanaan aturan adat semakin berkurang hingga hampir tak dilakukan lagi oleh generasi sekarang. Saat lembaga adat terbentuk, banyak orang gagap mengatur keprotokuleran adat. Orang yang paham, telah meninggal beberapa atau belasan atau puluhan tahun silam. Sementara, tidak sempat diajarkan pada generasi berikut. Beberapa naskah yang mencatat aturan adat secara detail juga hilang, rusak, dicuri, terbakar dan berbagai persoalan sehingga sulit diakses bila masih ada.

4. Masuknya kepentingan politik praktis dalam ranah pelestarian budaya
Sejak dilaksanakannya pemilukada, banyak tokoh adat yang turut berperan. Di sisi lain, sebagian politisi memanfaatkan kehadiran tokoh adat (dan lembaganya bila ada), sebagai tim sukses. Hal ini sangat merendahkan posisi lembaga adat yang tak lebih dari tim sukses belaka. Untung baik bila setelah sukses, lembaga adat tidak dilupakan. 

Mungkin pada kesempatan ini kita urai hanya 4 (empat) dari sekian banyak persoalan sekaitan lembaga adat. Tetapi terlepas dari itu, kita tetap harus melihat lembaga adat dari sisi asas manfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Beberapa organisasi perkumpulan lembaga adat (terkadang pecah), melakukan pertemuan secara berkala, macam festival keraton. Tentu anggaran besar, harga yang pantas untuk silaturahmi masyarakat adat nasional.

Quo Vadis Lembaga Adat ?

Bagaimana lembaga adat dapat terus eksis dan berperan dizaman reformasi dan zaman digital ini ? Tentu untuk menjawab pertanyaan ini, lembaga adat harus punya visi dan misi yang jelas terukur. Lembaga adat mestilah paham, era kekinian. Paham bagaimana media melakukan perubahan besar besaran terhadap pengetahuan dan karakter masyarakat. Paham bagaimana berperan dalam mengusung negara yang berkarakter.

Dan untuk itu, bukan berarti memberi gelar kebangsawanan pada orang berdasarkan jabatan strukturalnya namun tak berpartisipasi pada gerakan kebudayaan. Akan tetapi memberi apresiasi pada orang yang peduli pada budaya, pada para maestro seni, budaya, dan keahlian lokal.  

Coba kita lihat, saat ini betapa banyak anak muda yang tertarik membincang budayanya. Lantas, apa peran lembaga adat untuk mengedukasi mereka ? Saat ini, banyak maestro seniman tradisional yang berusia sepuh yang tak lagi punya ruang ekspresi. Dimana peran lembaga adat untuk mengeksiskan mereka ? Saat ini, banyak seniman muda yang berusaha berkreasi berdasar ingatan budayanya, namun dimana peran lembaga adat untuk membantu mereka. Saat ini, banyak ahli pembuat rumah, ahli tempa besi, dan berbagai keahlian lokal yang terancam punah. Dimana peran lembaga adat untuk merevitalisasi mereka ?

Kerjasama dengan instansi terkait mesti dieratkan, dalam hal ini kementrian dan dinas yang terkait. Memang, persoalan mendasar selalunya keterbatasan anggaran. Nah pada titik ini mestinya pihak pengambil keputusan lebih kreatif memutuskan, kegiatan apa yang lebih penting untuk dilaksanakan. Bukan kegiatan apa yang lebih besar anggarannya, lalu memasukkan orang yang tidak berkompeten di kepanitiaan hanya karena jabatan strukturalnya belaka.

Hal paling penting adalah inventarisasi. Mulai dari pusaka yang tersisa, naskah, kearifan lokal, ritual adat, seni tradisi, pelaku seni, maestro, situs sejarah dan sebagainya. Lembaga adat mestilah memiliki data yang selengkap lengkapnya.

Lembaga adat mesti yang terdepan mendorong kurikulum muatan lokal sejarah dan budaya daerah bersangkutan. Sehingga ada proses edukasi untuk generasi muda.

Lembaga adat mesti terlibat dalam dengar pendapat, musrembang dan berbagai ruang partisipasi lainnya. Sehingga kehadirannya, dapat bermanfaat bagi pembangunan.

Lembaga adat mestinya menjadi referensi utama bagi peneliti, baik lokal maupun dari luar negeri untuk menjadi informan.

Manusia, dilahirkan didunia dalam keadaan tanpa apa apa dan tak memilih orang tuanya. Sehingga orang orang yang "Beruntung" dilahirkan dari trah penguasa masa silam, mestinya menjadikan dirinya sebagai "adat yang berjalan". Penghormatan masyarakat pada mereka yang beruntung itu, mesti dibalas dengan keberpihakan pada masyarakat dalam memperjuangkan hak haknya. Dibalas dalam bentuk menjadikan diri suri teladan yang baik tentang budaya.

Quo Vadis HMI


Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya Masyarakat Adil Makmur yang diridhoi Allah Swt.
(Tujuan HMI)


Perjalanan panjang HMI mengiringi kisah Republik ini. HMI, telah melewati berbagai dinamika yang sedemikian rupa. Mulai dari keterlibatan pada Revolusi Fisik mempertahankan kemerdekaan, hingga mengisi kemerdekaan. Sebagai organisasi mahasiswa yang tersebar hampir tiap pelosok nusantara, kadernya melimpah ruah diberbagai generasi. 

Secara keorganisasian, HMI sangat kompleks. Memiliki jenjang kepengurusan dari tingkat Komisariat, Cabang hingga Pengurus Besar (PB). Pada Cabang yang "gemuk" ia dibentuk Korkom. PB sendiri dibantu Badko. Pengkaderan, atribut organisasi, mekanisme rapat dan sebagainya, semuanya memiliki aturan yang jelas dan terinci. 
Sebagai organisasi "raksasa" tentu kita maklum, kadernya tentu beragam karakter. Mulai yang akademis, religius, organisatoris, bahkan ada yang agak begal. Mengelolanya, tentu membutuhkan tantangan yang luar biasa. Anehnya, selalu saja banyak kader yang percaya diri mampu menuntaskan berbagai masalah internal organisasi. Padahal, hukum alam meniscayakan, hanya kerjasama dan kebersamaanlah yang menjadi kekuatan dalam menyelesaikan berbagai masalah. Bukan keunggulan individu. Meski disatu sisi, kita membutuhkan individu unggul pada posisi tertentu sesuai bidang yang ia kuasai.

Potret Dinamika Internal HMI
Banyak kader HMI yang suka ber"main" pada ruang suksesi. Bahkan alumni sepuh super senior pun terkadang masih suka ber"main". Mulai suksesi himpunan jurusan, pilkada, hingga pilpres. Apalagi bila Kongres HMI, maka semacam ada kebahagiaan tersendiri menguji ilmu strategi taktik.

Pada titik itu, kader akan terbelah oleh politik gerbong. Kuantitas kader terdistribusi pada gerbong-gerbong yang seolah tak berujung. Sayangnya, kurang kematangan dalam berpolitik. Sehingga pasca suksesi, menjadi hal lumrah melihat adanya dua, tiga bahkan empatisme kepengurusan. Padahal jika prosesnya adil, cukup satu kepengurusan saja.

"Kader titipan Kanda/Yunda", sebuah bentuk "nepotisme kecil" yang berefek kurang baik terhadap proses di HMI. Di level pengkaderan, khususnya Intermediate Training, terkadang ada kader yang pada dasarnya belum layak, namun dipaksa ikut karena dititip oleh Kanda/Yunda tertentu. Walhasil, Koster, SC, OC dan Pengurus Cabang kadang terpaksa memediasi. Efek jangka panjangnya adalah, kurangnya kualitas kader yang mengisi pengkaderan dan kepengurusan. 
Tentu hal demikian (kepengurusan ganda dan kader titipan kanda) akan melemahkan HMI secara internal. Kita tidak bisa bayangkan, dengan tantangan zaman yang amat beragam, entah bagaimana HMI bisa berperan untuk bangsa dan negara.

Menyoal Peran HMI 
Sekarang tahun 2015. HMI kembali melaksanakan rutinitasnya, yaitu Kongres. Sebagai wadah pengambilan keputusan tertinggi, ekspektasi kader terhadap Kongres yang berkualitas tentu juga tinggi. Namun menjadi sebuah pembonsaian makna kongres, bila hanya sekadar suksesi belaka. Arena Kongres harusnya menjadi ruang bagi akumulasi pembacaan terhadap regulasi di HMI. Sehingga regulasi yang dianggap kurang relevan, bisa diubah. Begitupun sebaliknya.

Di awal berdirinya, HMI terlibat dalam revolusi fisik, sangat berbeda di era orde lama, dan orde baru. Sehingga sesuai dengan tujuan HMI, kadernya harus diarahkan untuk mengisi kemerdekaan, mengisi pembangunan dan berperan serta dalam kemajuan.

Akan tetapi, dimana HMI saat orang kecil tergusur, hukum tidak berpihak pada orang kecil ? Dimana HMI saat budaya bangsa sedang tergerus ? Dimana HMI saat ilmu pengetahuan seolah mandeg pada buku teks kuliah ? Dimana HMI saat berbagai hal dimana bangsa ini membutuhkannya ?

Orang umumnya bisa mengatakan, ketika jalan macet, ada bakar ban dan melakukan aksi, maka besar kemungkinan HMI lah disitu. Namun isu apa yang mereka angkat ?

Adanya "Litbang" dalam struktur HMI harusnya dimaksimalkan. Hampir bisa dipastikan, di tiap HMI Cabang, tidak memiliki data kuantitatif daerahnya. Sehingga kurang memahami apa yang ada didaerahnya secara detail. Tetapi hampir bisa dipastikan, kader HMI selalu ada di warkop yang berbicara politik daerah, apalagi menjelang pemilu.

Harusnya, Litbang mempunyai data kuantitatif, lalu mengolahnya dan memberi masukan pada pengurus Cabang tentang isu yang harus didorong. Bukan menunggu media untuk menerima isu untuk demo keesokan harinya.

Lalu, apakah harus semuanya dilakukan dengan cara Demo ? Apalagi sekarang bukan era 70an yang demonstran diasosiasikan dengan pahlawan muda. Saat ini, demostran lebih diasosiasikan sebagai anak muda yang memacetkan jalan dan mengganggu aktifitas masyarakat. Tentu ini bentuk miskin kreatifitas kader dalam mengusung sebuah metode gerakan. Mengapa kurang melakukan pendampingan dilevel grass root ? Mengapa tidak memperbanyak hal hal yang bersifat edukatif untuk masyarakat ?

Kader HMI harus lebih memahami cara berbuat ketimbang cara mengkritik. Sebab mengkritik kebijakan melalui aksi demonstrasi saat ini bukan lagi hal yang efektif dalam mengubah kebijakan publik. HMI harusnya lebih berperan dalam "dengar pendapat" dengan wakil rakyat. HMI harusnya lebih mampu bekerjasama dengan stake holder dalam sebuah kebijakan yang realistis, meski tetap harus mempertahankan independensinya. HMI harusnya menelurkan kader yang berpikir rasional, bukan yang berpikir ala begal. Tentu harus zero tolerance untuk kekerasan di HMI.

Pengkaderan, terutama Intermediate Training harus ditinjau ulang. Mengapa ? Karena dari Intermediate Training inilah para ketua Komisariat, pengurus Cabang keatas termasuk pemateri berasal. Jika Intermediate Training bermasalah, tentu keluarannya juga akan bermasalah. Misalnya, peserta yang melampaui quota menyebabkan kurang maksimalnya proses. Apalagi jika ada yang merasa wajar tidak bayar registrasi, merasa berhak ikut LK2 meski tidak bisa mengaji, tidak tahu bacaan shalat, tidak bisa buat makalah tetapi paling cepat lapar. Yang diandalkan, hanya karena dia mencatut nama senior tertentu serta tindakan yang agak represif pada panitia.


Terakhir, kepada seluruh kandidat yang akan berkontestasi di panggung kongres, siap menang dan siap kalah. Jika menang, pastikan apa yang akan dilakukan untuk memperjelas peran HMI kedepan. Demikian pula yang tidak terpilih. "Ngambek" lalu memecah belah kepengurusan adalah bentuk sifat kekanak kanakan yang melemahkan bahkan dapat merusak HMI. Kepada formateur yang nanti terpilih, kemampuan menafsirkan tujuan HMI sesuai kondisi zaman, lalu menterjemahkan dalam bentuk program kerja dan kebijakan, akan menentukan masa depan HMI. Tempatkan kader sesuai kemampuannya, bukan siapa yang menitip. Bagi yang tidak terpilih, membangun HMI tidak mesti menjadi ketua PB. Untuk romli, tidak seharusnya membebani orang lain untuk sesuatu yang orang lain tidak mesti lakukan. Kalian hanya penggembira, (bukan peserta dan panita kongres atau pengurus HMI) yang seharusnya dapat berbuat lebih nyata untuk membangun HMI ketimbang minta makan seperti pengemis.